Selasa, 13 Juni 2017

Jelang Ops Ramadniya, Polresta Gelar Rakor Bahas Trouble and Black Spot

Guna mengurai permasalahan yang akan terjadi saat Lebaran tiba, Polresta Probolinggo menggelar Rapat Koordinasi Operasi Ramadniya Semeru 2017 Dalam Rangka Pengamanan Idul Fitri 1438 H (13/6). Kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah ini turut mengundang Ketua MUI KH Nizar Irsyad dan perwakilan pengusaha yang tempat usahanya berada di Jalan Siaman, Niaga dan Pasar Baru serta Dr. Sutomo. Selain itu undangan dihadiri oleh perwakilan Pedagang Tape yang berjualan di sepanjang batas Kota Probolinggo.

 
Rapat Koordinasi yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya ini, dibuka oleh Kapolresta Probolinggo Alfian Nurrizal, SH, S.IK, M.Hum. dengan memberikan materi kepada undangan tentang Trouble Spot dan Black Spot di beberapa titik perniagaan.

 
Sudah menjadi rahasia umum bilamana arus lalu lintas di areal Pasar Baru, Siaman dan Niaga seringkali menimbulkan kemacetan yang salah satunya diakibatkan kegiatan bongkar muat pada siang hari yang memakan bahu jalan.

 
“Dengan adanya forum ini, kita berharap satu suara untuk mencari solusi bagaimana mengatasi persoalan kemacetan. Salah satunya yaitu menghimbau dan memberikan surat edaran kepada Pengusaha di sekitar Jalan Siaman, Niaga dan Pasar Baru untuk menunda kegiatan bongkar muat menjadi jam 18.00 – 21.00 Wib,” jelas Kapolresta.

 
Mengamini pernyataan Kapolres, Ketua MUI KH Nizar Irsyad berharap Pengusaha untuk berlapang hati menerima keputusan forum ini. “Karena dampak kemacetan ini ke semua masyarakat, bukan hanya pengusaha saja,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pengusaha di Jalan Niaga Sdr. Edi S mengeluh bila harus bongkar muat malam hari. “Kuli angkut kami juga berpuasa, jadi tidak bisa bekerja malam hari. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muat. Bongkar jam 2 selesainya jam 6 malam,” keluhnya. Edi menambahkan kemacetan tidak hanya karena bongkar muat saja. “Menurut saya kemacetan itu karena parkir becak di sepanjang jalan baru yang memakan bahu jalan,” ujarnya.

 
Sdr. Muji yang juga pengusaha di Jalan Niaga menyampaikan akan mematuhi segala keputusan forum ini. “Namun kami usul agar pembeli yang menggunakan pick up masih bisa berbelanja di tempat kami,”

Selain itu, salah satu pedagang tape bernama Ningsih juga menyampaikan unek-uneknya. “Nama saya ningsih pak, tapi nama beken saya Sheila. Memang kalau lebaran di sepanjang jalan batas Kota Probolinggo padat sekali kendaraan. Namun di sebelah utara jalan juga sering muncul pedagang dadakan yang justru tambah bikin macet jalan. Untuk itu kami memohon solusi yang terbaik,” ujarnya.

 

Di hadapan media, Kapolresta menjelaskan bahwa akan mencari solusi terbaik yang dapat diterima oleh berbagai pihak. “Kami akan menyamakan persepsi untuk mengantisipasi kemacetan. Namun tentunya, jangan sampai mematikan kelangsungan hidup daripada tukang becak maupun pelaku usaha lainnya,” pungkasnya.